28 Januari 2014

Hujan (yang) Membawa Rizqi



    Petang itu ketika Commuter Line baru saja mengakhiri perjalanan di Stasiun Bekasi, langsung saja saya dan penumpang lainnya disambut derasnya hujan disertai kilatan petir. Hujan yang teramat deras dan saya pun tertahan untuk beberap saat tanpa bisa melanjutkan perjalanan menuju rumah. Sambil menunggu hujan reda saya mengamati anak-anak yang berlarian kesana-kemari menawarkan jasa ojek payung, diantara mereka bahkan ada yang masih mengenakan seragam putih merahnya.
Mereka tak menghiraukan dinginnya guyuran air hujan dan kilatan petir, yang ada hanyalah keceriaan di wajah mereka dan itu terlihat dari tingkahnya yang sesekali bercanda diantara mereka. Mereka menikmati pekerjaan itu dan mungkin sambil membayangkan berapa uang yang akan didapat sore itu.  


     Ya mungkin mereka hanya iseng saja menjadi pengojek payung, hanya sekedar untuk tambahan jajan, bukan pekerjaan utama mereka karena dilihat dari usianya pastilah mereka masih murid-murid sekolah dasar dan saya teringat dengan salah satu lagu dari Bang Iwan Fals yang berjudul Sore Tugu Pancoran :

Si budi kecil kuyup menggigil
menahan dingin tanpa jas hujan
di simpang jalan tugu pancoran
tunggu pembeli jajakan koran

menjelang maghrib hujan tak reda
si budi murung menghitung laba
surat kabar sore dijual malam
selepas isya melangkah pulang

anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
dipaksa pecahkan karang, lemas jarimu terkepal

cepat langkah waktu pagi menunggu
si budi sibuk siapkan buku
tugas dari sekolah selesai setengah
sanggupkah si budi diam di dua sisi.

Semoga mereka menjadi manusia-manusia tangguh di kemudian hari.

#Babelan, 29-11-2012, 23.30 wib.
@doel_somuch
(catatan lama)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar